1. Apa Itu Ruam Popok?
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang para orang tua dari bayi atau anak-anak yang masih menggunakan popok menghadapi masalah ruam popok (diaper rash). Hal ini bisa membuat bayi atau anak menjadi rewel, mengalami gangguan tidur, dan pada akhirnya menjadikan orang tua kebingungan.
Ruam popok adalah kondisi kelainan pada kulit yang sering ditemukan, ditandai oleh munculnya peradangan akut pada area tertutup popok seorang bayi atau anak.
2. Tipe Ruam Popok
Terdapat tiga tipe ruam popok yang umum ditemui:
- Dermatitis akibat gesekan
- Dermatitis Kontak Iritan
- Kandidiasis popok
Ruam popok umumnya disebabkan oleh adanya bahan iritan pada kulit, seperti air kencing, feses, enzim dari feses, bahan popok, bahan pembersih, juga akibat gesekan oleh popok.
3. Gejala Ruam Popok
Dermatitis akibat gesekan oleh popok timbul pada area yang paling sering tergesek, termasuk paha bagian dalam, pantat, perut, serta permukaan genitalia, berupa kemerahan.
Dermatitis Kontak Iritan biasanya terjadi pada bokong, tepi anus, area pubis, hingga perut bagian bawah juga paha atas. Pada kasus ringan, tampak kemerahan terlokalisir dengan sisik ringan. Jika lebih parah, bisa disertai adanya bintil-bintil kecil dan pada kasus yang berat tampak bintil-bintil kecil, bintil bernanah, bahkan luka-luka.
Dermatitis popok yang disertai jamur ditandai ruam merah dengan tepi meninggi, juga didapatkan bintik-bintik kecil pada tepi luarnya (lesi satelit) yang sering kali meluas hingga lipatan kulit. Kadang kala daerah tersebut tampak membasah.
4. Pencegahan dan Penanganan dengan Metode ABCDE
A (Air) — Udara
Cara yang paling mudah, aman, dan efektif untuk mengurangi gesekan serta pengaruh bahan iritan adalah dengan melepas popok dan membiarkan area popok terpapar udara selama mungkin.
B (Barrier) — Penghalang
Barrier cream telah direkomendasikan sebagai bahan pelindung untuk mencegah ruam popok dan menghalangi kerusakan lebih lanjut. Kebanyakan sediaan mengandung zinc oxide dan petrolatum yang berperan sebagai lapisan lemak pelindung. Krim ini harus dioleskan secara tebal di bagian kulit yang rentan dan tidak boleh dihapus semuanya setiap kali penggantian popok.
C (Cleansing) — Pembersihan
Membersihkan area popok memakai tissue basah (diaper wipes) sama efektifnya dengan penggunaan kapas atau kain pembersih serta air. Namun tetap harus waspada karena beberapa tissue basah mengandung parfum, alkohol, dan bahan tertentu yang dapat menyebabkan iritasi atau alergi.
D (Diapering) — Pemakaian Popok
Kemajuan di bidang teknologi serta desain yang makin canggih sangat mempengaruhi kemampuan penyerapan popok. Disarankan untuk mengganti popok tiap 1 hingga 3 jam pada siang hari atau sesegera mungkin saat popok basah, dan pada malam hari minimal 1 kali. Bahkan lebih sering pada bayi yang baru lahir.
E (Education) — Edukasi
Orang tua atau pengasuh harus memperoleh pendidikan tentang perawatan kulit secara praktis dan higienis, khususnya di area popok:
- Cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti popok
- Ganti popok segera setelah basah
- Bersihkan kulit dengan air hangat dan kain lembut atau tissue basah yang aman
- Usap area kelamin dari arah depan ke belakang
- Keringkan kulit atau biarkan terpapar udara selama mungkin
5. Kapan Harus ke Dokter?
Pada kasus yang parah atau tidak membaik dengan perawatan yang disarankan, bayi atau anak harus dibawa ke dokter. Bila diperlukan, dokter akan memberikan obat-obat tertentu seperti anti bakteri, anti jamur, atau kortikosteroid krim sesuai indikasi.
Artikel ditulis oleh:
dr. Sawitri, SpKK (K), FINSDV
Klinik Utama Surabaya Skin Centre
Jln. Prof. Dr. Moestopo No. 175 Surabaya
Telp: 031 – 599 9595 | WA: 0822 4777 9595





