Jerawat di area vagina seringkali menjadi masalah yang tidak banyak dibicarakan, padahal kondisi ini bisa sangat mengganggu dan memengaruhi kenyamanan sehari-hari. Secara medis, jerawat di vagina biasanya termasuk jenis folikulitis atau peradangan pada folikel rambut. Berikut adalah 7 penyebab umum jerawat di vagina sekaligus cara mengatasinya, agar Anda bisa memahami dan merawat kulit intim dengan tepat.
1. Pori-pori Tersumbat oleh Kotoran dan Minyak
Area vagina memiliki kelenjar minyak dan pori-pori seperti kulit lain di tubuh. Akumulasi minyak, sel kulit mati, dan kotoran dapat menyumbat pori-pori, memunculkan jerawat. Kondisi ini serupa dengan komedo di wajah, namun di area yang lebih sensitif sehingga perlu perawatan khusus.
2. Folikulitis Akibat Infeksi Bakteri
Folikulitis adalah peradangan folikel rambut yang sering terjadi di area kelamin karena infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Ini biasanya muncul setelah mencukur bulu kemaluan dengan alat yang kurang steril. Folikulitis dapat terasa nyeri, merah, dan bernanah.
3. Dermatitis Kontak karena Iritasi
Penggunaan produk-produk yang mengandung bahan kimia keras seperti sabun berbahan pewangi, pembalut beraroma, atau kondom dengan pelumas bisa memicu dermatitis kontak. Ini menyebabkan inflamasi kulit yang terkadang menyerupai jerawat, disertai rasa gatal dan kemerahan.
4. Kista Kelenjar Bartholin yang Tersumbat
Kista ini terjadi ketika saluran kelenjar Bartholin di vagina terblokir, menyebabkan benjolan berisi cairan yang mungkin mirip jerawat besar. Jika terinfeksi, kista ini bisa menjadi abses yang nyeri dan butuh penanganan medis.
5. Infeksi Virus Molluscum Contagiosum
Munculnya benjolan kecil halus di area vagina yang disebabkan oleh virus Molluscum contagiosum kadang keliru disebut jerawat, namun ini adalah infeksi kulit menular seksual yang perlu penanganan spesifik.
6. Kebersihan Kurang Optimal
Kurangnya kebersihan intim, terutama setelah buang air dan saat menstruasi, meningkatkan risiko infeksi bakteri dan jamur yang bisa memicu jerawat di vagina.
7. Menggunakan Pakaian Ketat atau Sintetis
Pakaian dalam yang terlalu ketat atau berbahan sintetis menghalangi kulit bernapas dan meningkatkan kelembapan, menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jerawat.
Cara Mengatasi Jerawat di Vagina dengan Aman
- Bersihkan area vagina dengan sabun yang lembut dan tanpa pewangi, serta air hangat setiap hari untuk menghilangkan keringat dan kotoran.
- Hindari mencukur bulu kemaluan terlalu sering, dan gunakan alat cukur bersih serta teknik yang tepat untuk mengurangi risiko folikulitis.
- Gunakan pakaian dalam berbahan katun yang longgar agar kulit intim bisa bernapas dan mengurangi kelembapan yang memicu peradangan.
- Hindari penggunaan produk yang mengandung bahan iritan, seperti sabun berbulu pewangi dan tisu basah beraroma.
- Jangan memencet jerawat atau benjolan di area vagina, karena bisa menyebabkan luka dan infeksi yang lebih serius.
- Segera konsultasikan ke dokter spesialis kulit dan kelamin jika jerawat tidak sembuh dalam waktu lama, semakin parah, atau disertai nyeri hebat serta demam.
Baca Juga : 7 Penyebab Biduran Paling Umum & Cara Mengatasinya
Kenapa Harus Konsultasi ke Surabaya Skin Centre?
Surabaya Skin Centre adalah klinik dermatologi dan kesehatan kulit serta kelamin yang memiliki dokter spesialis kompeten dengan pengalaman luas dalam menangani jerawat serta masalah kulit genital. Dengan fasilitas lengkap dan pendekatan perawatan personal, klinik ini memastikan Anda mendapatkan terapi yang aman, efektif, dan disesuaikan dengan kondisi kulit Anda.
Dengan dukungan ahli dermatologi yang menguasai ilmu kedokteran kulit dan kelamin, Surabaya Skin Centre siap membantu mengatasi jerawat di vagina secara akurat dan profesional, sehingga Anda dapat kembali merasa nyaman dan percaya diri. Jika Anda mengalami jerawat di vagina dan ingin penanganan yang tepat serta aman, jangan ragu untuk berkonsultasi di Surabaya Skin Centre. Tim dokter spesialis kami siap memberikan solusi terbaik untuk kesehatan kulit intim Anda.





